Monday, June 14, 2010

Saat Aku Maba

2:14 PM

Dua bulan lalu saya masih memakai baju putih abu-abu. Layaknya anak yang baru menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Saya pun selalu menebak-nebak apa saja yang harus saya lakukan saat saya duduk di bangku kuliah. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh para Maba yang lain. Apalagi ketika saya menginjakkan kaki di Kampus Universitas Indonesia, saya merasa gerbang menuju masa depan telah terbuka lebar. Sungguh bukan perjuangan yang mudah untuk bisa mencapai titik ini. Pastinya, kami Maba telah mengerahkan seluruh tenaga dan waktu kami untuk bisa ada di Universitas Indonesia.

Saat pertama kali ada di Universitas Indonesia niat saya hanya satu yaitu belajar dan setelah itu mendapat pekerjaan yang layak. Saya rasa itu lebih dari cukup. Tapi setelah duduk diantara para mahasiswa, saya menyadari peran sebagai mahasiswa. Kita adalah orang-orang beruntung yang masih memiliki kesempatan untuk megubah dunia dan Indonesia pada khususnya. Kita adalah motor dari pergerakan bangsa. Betapa ada banyak orang yang akan tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Ditambah lagi predikat UI sebagai kampus perjuangan membuat saya menyadari bahwa saya adalah salah satu pejuang yang akan melawan berbagai bentuk “penjajahan” yang melanda Indonesia dan menjauhkan Indonesia dari bahaya laten. Semoga hal itu pula yang dirasakan oleh Maba yang lain.

Kita tak hanya belajar untuk kepentingan diri kita dan keluarga kita sendiri. Tapi mungkin suatu saat kita akan memberi pengaruh besar pada Indonesia. Ada satu kalimat yang selalu membuat saya semangat untuk melakukan suatu perubahan “We can change the world if we want because our world is in our hand”. Seperti juga yang ditulis Habiburrahman El Shirazy dalam novelnya Ketika Cinta Bertasbih yang dikutip dari Johann Wolfgang von Goethe “Kalau kamu ingin menciptakan sesuatu, kamu harus melakukan sesuatu”. Intinya, kita tak akan merasakan perubahan bila kita hanya bisa diam.

Saya teringat ketika saya mengerjakan tugas OKK yang diberikan kepada Maba. Saya teringat betapa saya dan teman-teman satu kelompok saya memiliki impian yang sangat besar terhadap Indonesia. Kami menginginkan Indonesia yang aman, tentram, damai dengan perekonomian yang stabil. Tak ada kesenjangan, tak ada gurat-gurat sedih pada anak-anak bangsa karena putus sekolah. Sungguh besar keinginan kami untuk bisa mencapai perubahan tersebut.

Kami sebagai Maba ingin ikut berkontribusi untuk perubahan Indonesia ke masa yang lebih baik. Akan tetapi, sebagai Maba saya pun sangat memahami. Mungkin masih sangat kecil kontribusi yang bisa kami berikan. Karena kami masih hijau, kami hanya seorang siswa yang baru lulus SMA dan baru menginjakkan kaki di bumi mahasiswa. Kami masih belum memahami betul apa isi Tridharma perguruan tinggi yang setahu kami seharusnya menjadi salah satu landasan bagi mahasiswa dalam bertindak.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya bisa ikut berkontribusi lewat tulisan ini. Semoga suara hati dan semangat saya sebagai seorang Maba bisa ikut mengobarkan semangat Maba yang lain. Semoga saya dan Maba yang lain bisa turut serta meneruskan perjuangan para senior dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

0 comments:

Post a Comment